You are viewing dr_agna

Tired of ads? Upgrade to paid account and never see ads again!

Previous Entry | Next Entry

TOXOCARIASIS PADA KUCING

TOXOCARIASIS PADA KUCING

 

Toxocariasis adalah penyakit parasit internal yang disebabkan oleh cacing ascarida dari  genus Toxocara pada kucing. Penyakit ini diketahui mempunyai kecenderungan zoonosis sangat tinggi, karena itu sangat perlu diwaspadai.

 

Etiologi

Etiologi penyakit ini adalah cacing nematoda, roundworm (cacing gelang), yang lazim disebut ascarida genus Toxocara yang menyerang pada kucing, secara spesifik adalah Toxocara cati. Selain Toxocara cati, dua species lainnya adalah Toxascaris leonina dan Toxocara canis yang lazimnya menyerang anjing atau jenis canidae liar lainnya. Namun sering ditemukan telur Toxocara cati pada feses anjing, hal ini dikarenakan telur yang masih belum pada tahap infeksius termakan oleh anjing dan dikeluarkan melalui feses segera setelah termakan. Perbedaan antara ketiga species ini adalah pada cara penularannya, nantinya akan dijelaskan pada judul lebih lanjut.

 

Karakteristik

Panjang tubuh (dewasa)

10 – 12 cm (betina)

3 – 6 cm (jantan)

Telur

70 – 80 μm

Hospes intermedier

Tikus, rodensia lain, mamalia kecil, burung, kumbang, cacing tanah

Stadium infekstif

Telur dengan larva 3

Periode prepaten

6 – 8 minggu

Potensi zoonosis

Sangat tinggi

 

Telur pada stadium larva ke-3 dieliminasi melalui feses dan direasorbsi bisa langsung atau melalui hospes intermedier seperti mamalia kecil atau burung. Dari usus, larva bermigrasi melalui jaringan dan organ seperti hati dan paru, dan kemudian menemukan cara kembali ke usus melalui aliran darah ataupun dibatukkan kemudian ditelan. Juga bisa ditransmisikan melalui air susu pada anaknya.

Gambar 1. Telur berlarva Toxocara cati

 

Gambar 2. Kepala Toxocara cati dewasa, mikroskop elektron

 

Dapat menginfeksi kucing sepanjang hidupnya, menyebabkan kontaminasi lingkungan sekitar. Prevalensi infeksi tinggi karena banyak cara infeksi dan waktu hidup telur yang lama pada lingkungan. Seekor betina dapat memproduksi sekitra 200.000 telur setiap harinya, dan telur dapat bertahan hidup di lingkungan (indoor maupun outdoor) selaama beberapa tahun.

 

Epidemiologi

Infeksi T. cati tidak terbatas untuk anak kucing, pada sebuah survei, 23 dari 27 kucing yang terinfeksi terinfeksi pada usia 2 minggu, dan 10 dari 27 kucing terinfeksi saat berumur 3 tahun atau lebih. Singkatnya, semua umur dapat terkena.

 

Siklus hidup

            Toxocara cati memiliki siklus hidup yang kompleks dan sangat efektif.

a.      Ingesti telur (infeksi langsung)

                  Setelah kucing memakan telurnya infektif yang mengandung larva stadium kedua, telur menetas dan larva stadium ketiga memasuki dinding usus halus. Larva bermigrasi melalui sistema sirkulasi dan dapat menuju ke sistema respirasi atau organ dan jaringan lain dalam tubuh. Jika memasuki jaringan tubuh, mereka dapat mengkista (dilapisi dinding dan inaktif). Larva tersebut dapat tetap mengkista dalam jaringan berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Ini adalah pola migrasi yang lebih umum terlihat pada kucing dewasa. Pada kucing yang sangat muda, larva bergerak dari sirkulasi ke sistema respirasi, dibatukkan dan memasuki saluran digesti lagi. Larva kemudian menjadi cacing dewasa. Cacing betina dewasa bertelur, telur dikeluarkan lewat feses. Telur tetap ada di lingkungan dalam waktu 10 – 14 hari sampai menjadi infektif.

 

2.      Ingesti hospes paratenik

                  Jika kucing menelan hospes paratenik seperti tikus, cacing tanah atau kumbang yang memiliki larva yang mengkista, migrasi mirip dengan ingesti telur berlarva. Larva dilepaskan dari hospes paratenik saat termakan dan dicerna. Larva memasuki sirkulasi, mengadakan migrasi ke organ, misalnya sistem respirasi.

 

3.      Larva melalui air susu

                  Selama periode perinatal, larva dormant (stadium 1) yang ada di tubuh induk dapat mulai bermigrasi ke glandula mammae, berubah menjadi larva stadium lalu ke dalam air susu. Anak kucing dapat terinfeksi melalui air susu. Larva yang tertelan menjadi larva stadium ketiga dan keempat, dan selanjutnya menjadi dewasa dalam usus anak kucing. Jika larva dikeluarkan melalui feses anak kucing sebelum larva tersebut dewasa, larva tersebut dapat menginfeksi induk saat menjilati anaknya. Sekitar 4 minggu setelah kucing memakan telur infektif, cacing telah dewasa dalam usus, dan telur dikeluarkan lagi.

 



Gambar 3. Siklus hidup Toxocara cati

 

Perbedaan mendasar antara ketiga species (Toxascaris leonina, Toxocara cati, dan Toxocara canis) selain pada hospes definitifnya, juga ada pada siklus hidupnya, dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

 

Telur, dengan jalan ingesti

Larva, melalui air susu

Larva, melalui plasenta

Larva, dengan jalan ingesta hospes paratenik atau intermedier

Toxascaris leonina

X

 

 

X

Toxocara cati

X

X

 

X

Toxocara canis

X

X

X

X

 

            Dari tabel diatas dapat terlihat, Toxocara canis memiliki satu cara infeksi yang tidak terjadi pada Toxocara cati, yaitu infeksi pada anak kucing antenatal melalui plasenta (intrauteri).

 

Patogenesis

            Dalam usus, cacing dewasa mengambil nutrisi dari hospes definitifnya dengan menyebabkan kelukaan dinding usus dan mengambil nutrisi dari sirkulasi. Berdasarkan siklus hidupnya, larva menyebabkan penyakit dengan fase migrasi yang meninggalkan lesi pada organ dan jaringan yang dilalui. Keparahannya bergantung kepada jumlah, baik pada cacing dewasa maupun larva. Perjalanan larva infektif T. cati melalui jaringan paru-paru dan hati dapat menyebabkan terjadinya edema pada kedua organ tersebut. Paru-paru yang mengalami edema mengakibatkan batuk, dipsnoe, selesma, dengan eksudat yang berbusa dan kadang mengandung darah.  Perjalanan larva lewat lambung, pada yang berat menyebabkan distensi lambung, diikuti oleh muntah, dan mungkin disertai keluarnya cacing yang belum dewasa didalam bahan yang dimuntahkan (vomitus)

 

Gejala klinis

            Berdasarkan pada siklus hidup, gejala klinis yang muncul mencakup gejala yang muncul karena migrasi larva dan gejala klinis yang muncul karena cacing dewasa. Gejala klinis yang muncul juga tergantung kepada seberapa berat infestasi parasit, yang bergantung kepada jumlahnya. Gejala klinis dapat mencakup pembesaran abdomen, kegagalan pertumbuhan, muntah dan diare. Infeksi dalam jumlah sedikit dapat menghasilkan jumlah telur yang sedikit pula dalam feses, karena itu diagnosis akurat membutuhkan prosedur uji pengapungan telur.

            Hewan yang mengalami infestasi cacing yang berat dapat menunjukkan gejala kekurusan, bulu kusam, perbesaran perut (pot-belly), juga gangguan usus yang antara lain ditandai dengan sakit perut (kolik). Obstruksi usus baik parsial maupun total, dan dalam keadaan ekstrim terjadi perforasi usus hingga tampak gejala peritonitis. Pada beberapa kasus bisa menunjukkan anemia, muntah, diare atau konstipasi. Pada kasus yang sangat berat tapi jarang terjadi, bisa terdapat obstruksi usus. Gejala batuk dapat teramati sebagai akibat adanya migrasi melalaui sistema respirasi. Pada hewan muda, migrasi larva dapat berakibat pneumonia. Adanya cacing yang banyak menyebabkan penurunan bahan makanan yang diserap, hingga terjadi hipoalbuninemia, yang selanjutnya menyebabkan kekurusan dengan busung perut (asites). Perut memperlihatkan pembesaran dan tampak menggantung.

 

Diagnosa

            Untuk diagnosa dengan cara pemeriksaan tinja adalah yang paling umum, dapat juga diikuti pemeriksaan patologi anatomi dan klinik. Diagnosa cacingan kadang-kadang tidak selalu didasarkan ditemukannya telur atau larva cacing didalam pemeriksaan tinja, baik secara visual, natif, metode apung atau pemeriksaan endapan. Riwayat cattery tempat penderita tumbuh sering dapat digunakan sebagai pengan dalam penentuan diagnosis antara lain batuk, pilek, anoreksia, kadang-kadang diare, perut membesar dan menggantung, dan bahkan konvulsi merupakan petunjuk kuat dalam menentukan diagnosa. Diagnosa pascamati penting untuk menegakkan diagnosis. Cacing toxocara yang belum dewasa dapat ditemukan didalam mukosa usus. Untuk hewan dewasa diagnosisnya lebih mudah.

 

Pemeriksaan feses

Untuk menemukan telur Toxocara cati pada feses menggunakan prosedur pengapungan telur. Sangat sulit membedakan telur dari ketiga species ascarida, kecuali orang yang sudah berpengalaman.

 

Pemeriksaan patologi anatomi

Dalam pemeriksaan pasca mati

*      jaringan tampak anemis dan hidramis. Hati tampak pucat, membesar dengan beberapa bagian mengalami pendarahan titik atau ecchymosae.

*      Paru-paru tampak pucat, jantung membesar, pucat, dengan kemungkinan terjadinya hidropericardium.

*      Saluran pencernaan pucat dengan beberapa tempat terjadi pendarahan titik.

*      Rongga perut berisi cairan transudat.

*       Cacing dewasa ditemukan dalam lumen usus. Mukosa usus mengalami radang eosinofilik bersifat lokal.

Pemeriksaan patologi klinik

Perubahan patologi klinik yang ditemukan meliputi lekositosis, eosinofilia, hipoalbuminemia, kadar β-globulin yang sangat meningkat serta adanya kenaikan serum glutamic piruvic transminase (SGPT)

 

Pengobatan

Banyak obat cacing membunuh cacing dewasa, tetapi tidak berefek terhadap larva yang bermigrasi maupun larva dalam kista. Karena itu banyak yang menganjurkan deworming 2 – 4 minggu setelah treatment terakhir. Pada saat treatment terakhir, kebanyakan larva masih bermigrasi, dan saat treatment dilakukan kedua kalinya diharapkan larva telah sampai di usus dan bisa terbunuh oleh obat cacing.

Obat yang umum dipakai dan efektifitasnya, aplikasi per oral:

Kandungan

Minimum umur/berat badan

Piperazine salts

6 minggu/lebih

Pyrantel pamoat/praziquantel

4 minggu/lebih atau 1,5 lbs/lebih

Milbemycin

6 minggu/lebih atau 1,5 lbs/lebih

Selamectin

8 minggu/lebih atau 2,6 – 7,5 kg

Yang direkomendasikan adalah Revolution ™ yang berisi Selamectin 60 mg.

 

Anak kucing sangat terancam infeksi sampai umur 6 bulan, karena itu sangat penting untuk memberikan obat cacing secara reguler. Anak kucing ekskresi telur terjadi lebih cepat daripada anak anjing, deworming mulai dapat dilaksanakan secara efektif mulai umur 2 – 3 minggu, diulangi pada minggu ke 5, 7 dan 9.

Pemberian obat (berdasarkan umur):

Umur 2 – 12 minggu = setiap dua minggu sekali;

Umur 12 minggu sampai 6 bulan = setiap bulan sekali;

Umur 6 bulan dan seterusnya = setiap tiga bulan sekali.

            Pada induk kucing, treatment dilakukan bersama anaknya. Kucing dewasa ditreatment secara reguler, dilakukan monitoring agar eliminasi parasit dapat terawasi. Untuk hewan yang dicurigai baru tertular dilakukan pemberian obat cacing secepatnya, setelah dua minggu diikuti terapi selanjutnya seperti diatas. Jika pemilik hewan baru mendapatkan anak kucing baru, hendaknya bertanya soal riwayat pemberian obat cacing pada anak kucing tersebut.

           

Pencegahan

            Pencegahannya dengan cara deworming secara teratur, higienitas pakan dan lingkungan, dan kontrol terhadap populasi hospes intermedier dan paratenik. Pemeriksaan feses harus dilakukan segera setelah anak kucing lepas masa sapih; 4 – 8 minggu setelah treatment berakhir; pemeriksaan reguler setahun sekali, dan sebelum betina dikawinkan. Pemberian obat cacing hendaknya dilakukan minimal 1 tahun sekali.

     

Zoonosis pada manusia

Yang beresiko terhadap toxocariasis adalah anak-anak dan pemilik kucing. Dua puluh empat laporan kasus menunjukkan infeksi Toxocara cati dewasa lebih sering daripada Toxocara canis pada manusia.

1.      Ocular Larva Migrans (OLM)

         OLM terjadi saat larva memasuki mata, menyebabkan inflamasi dan pembentukan jaringan ikat pada retina. Setiap tahunnya lebih dari 700 orang terinfeksi toxocara mengalami penglihatan permanen karena OLM. Kelukaan pada mata karena migrasi larva kedalam posterior chamber bola mata, menyebabkan granulomatous renitis, perlekatan retina, kehilangan daya lihat, atau pada kasus berat kebutaan permanen.

2.      Visceral Larva Migrans (VLM)

         Infeksi berat atau berulang, meskipun jarang dapat menyebabkan VLM, pembengkakan organ tubuh atau sistem syaraf pusat. Organ yang dapat terserang antara lain hati, paru-paru, ginjal, dan otak. Gejala VLM yang disebabkan perpindahan larva cacaing dalam tubuh antara lain: demam, batuk, asma, atau pneumonia.

 

Pada banyak kasus, infeksi toxocara tidak serius, dan banyak orang, terutama orang dewasa yang terinfeksi larva dalam jumlah sedikit, dapat tidak menimbulkan gejala. Kasus parah yang jarang tetapi lebih dapat terjadi pada anak-anak, yang selalu bermain di tempat kotor atau memakan tanah yang terkontaminasi kotoran kucing. Cara masuknya melalui telur toxsocara dalam tanah yang terkontaminasi. OLM biasanya terjadi pad anak-anak umur 7 – 8 tahun, dan VLM pada anak umur 1 – 4 tahun. Alasan perbedaan umur ini belum diketahui.

Anak kucing mendapatkan larva dari induk mereka sebelum lahir atau melalui susu, larva menjadi dewasa dengan cepat dalam usus anak kucing, saat umurnya 3 – 4 minggu, cacing mulai memproduksi telur dalam jumlah banyak dan mengkontaminasi lingkungan. Telur kemudian menjadi larva infektif di lingkungan setelah 2 minggu.

 

Pengobatan

VLM dengan antiparasitik dan antiinflamatorik, sedang OLM lebih sulit, hanya untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.

 

Pencegahan

a.                   Bawa kucing ke dokter hewan, terutama kucing muda, untuk deworming;

b.                  Cuci tangan dengan sabun dan air setelah bermain dengan hewan peliharaan dan setelah kegiatan di luar ruangan, terutama sebelum makan. Ajari anak-anak untuk selalu mencuci tangan setelah bermain dengan kucing di alam maupun di luar ruangan;

c.                   Larang keras anak-anak untuk bermain di daerah dengan tanah yang terkontaminasi kotoran hewan.

d.                  Bersihkan tempat tinggal kucing setidaknya sekali seminggu. Feses harus dikubur atau dimasukkan/dibungkus plastik dan dimasukkan ke tong sampah (disposal trash);

e.                   Ajari anak-anak bahwa sangat berbahaya jika memakan tanah.

 


Pertanyaan dan Jawaban

1.    Gejala klinis apa yang muncul pada induk kucing dan anak kucing saat terjadi transmisi intramammari? Yang mana yang diobati, pada induk atau anakanya?

             Tidak ada gejala klinis yang muncul baik pada induk maupun pada anaknya. Karena  saat transmisi larva yang ditransmisikan adalah larva ke dua dan belum berkembang ke larva ke tiga sampai kira-kira 2 minggu gejala tidak akan nampak setelah itu. Lagipula, infestasi cacing Toxocara cati ini umumnya tidak menunjukkan gejala, kecuali pada infestasi berat. Karena itu, sangat penting untuk selalu memeriksakan kucing, melakukan pemeriksaan feses dan terapi obat cacing secara reguler yang dapat dimulai dari anak kucing berumur 1 – 3 bulan. Selanjutnya dapat diulang sampai umur 6 bulan setiap sebulan sekali, dan diatas itu antara 3 bulan sampai minimal 1 tahun sekali. Induk kucing maupun anak kucingnya diterapi secara bersama-sama.

            Kekhawatiran mengenai efek residual dari obat cacing dilihat kepada pemakaiannya terhadap kucing yang diterapi. Setiap individu memiliki ambang batas toksisitas didasarkan pada berat badan dan dosis obat, karena itu sedapat mungkin menyesuaikan dengan itu agar tidak terjadi efek samping. Setiap obat memiliki withdrawal timenya sendiri, karena itu pemakaian dosisnya harus tepat.

            Pemakaian obat yang berkelanjutan memang dapat menyebabkan resiko toksisitas terhadap kucing maupun resistansi dari cacing, karena itu pula selain pengendalian dengan obat cacing hendaknya lingkungan sekitar tempat tinggal hewan harus selalu dibersihkan agar mencegah kontaminasi lanjutan yang memerlukan pemberian obat kembali. Tentang pemakaian obat cacing secara reguler sebenarnya tergantung kepada pemiliknya juga. Kita sebagai dokter hewan harus menyarankan yang terbaik pada klien agar infeksi tidak berlanjut dengan menyarankan pemeriksaan feses secara reguler, dan sanitasi lingkungan. Jika terbukti tidak terdapat telur cacing pada feses, maka pemakaian obat cacing yang terlalu sering dapat kita hindarkan.

 

2.   Gejala klinis infestasi berat adalah perut menggantung (ascites), bagaimana cara pengobatannya? Apakah cukup dengan obat cacing?

                  Ascites yang muncul disebabkan hipoproteinemia, karena cacing merusak mukosa usus dan penyerapan nutrisi terutama protein menjadi terganggu, lebih sedikit daripada keadaan normal. Konsentrasi plasma darah yang menjadi lebih encer menyebabkan adanya perpindahan cairan dari darah ke jaringan didekatnya, terutama pada jaringan longgar. Karena itulah cairan tertimbun dalam abdomen. Tetapi gejala klinis ini hanya muncul pada infestasi yang sangat berat, umumnya melanjut pada kematian.

            Terapi yang dilakukan tentu saja tidak cukup dengan obat cacing saja. Terapi dengan obat cacing hanya untuk mengeliminasi cacing dewasa, bukan untuk mengobati ascites. Pengobatan ascites seperti pengobatan pada edema, yaitu dengan diuretika untuk mengeluarkan cairan yang berlebih. Dan untuk mengembalikan konsentrasi protein dalam darah dapat diberikan terapi supportif, seperti infus nutrisi, terutama albumin.

 

3.   Pada saat terjadi penularan intramammaria, apakah dapat menyebabkan mastitis?

                Tidak muncul gejala mastitis pada transmisi intramammaria, karena larva-2 yang masuk ke dalam kelenjar susu bersifat inaktif dan tidak menyebabkan kerusakan pada jaringan kelenjar susu. Selain itu setiap kali anak kucing menyusu, larva tersebut secara otomatis keluar dari kelenjar, sehingga jumlahnya terus berkurang, tidak mencukupi untuk dapat menimbulkan reaksi keradangan yang ringan sekalipun.   

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Internet Sources:

http://www.profender.no/index.php

http://www.peteducation.com/default.cfm

http://www.dvmnews.com/drm/article/articleDetail.jsp

http://www.cdc.gov/index.htm

http://www.wikipedia.org

http://www.catlovers.com/index.htm

 

Book Sources:

Levine, Norman D. 1994. Buku Pelajaran Parasitologi Veteriner. Gadjah MadaUniversity Press. Yogyakarta, pp 496 - 501

Subronto, 2006. Penyakit Infeksi Parasit dan Mikroba pada Anjing dan Kucing. GadjahMadaUniversity                Press. Yogyakarta

Comments